Rabu, 08 April 2015

Cinta Segi 3 ( Jane , Joe & Dion )

Sebuah kisah tentang 3 orang yang sedang jatuh cinta, Jane Dion dan Joe,
Jane adalah seorang wanita berhati lembut, bersenyum manis dan moody. Akan menjadi sangat pemarah saat suasana hatinya jengkel, dan menjadi seorang penuh penyabar saat diterpa masalah. Jane gadis penyuka Cappucino Coffe dan suka dengan tata ruangan cafe unik sangat menghargai sebuah pengorbanan, dan membenci kebohongan. Jane tidak memungkiri jika dia menyukai jalan-jalan dikeramaian pasar Modern walaupun hanya sekedar jalan-jalan, ataupun hanya untuk melihat tingkah laku muda mudi yang beraneka ragam. Tapi sejujurnya jane sangat menyukai hawa sejuk pegunungan, impiannya dari kecil adalah tinggal disuatu kota modern diatas gunung dengan pemandangan indah hehijauan pohon, mendengarkan musik dari celotehan burung kecil, ataupun menikmati suara riuh air sungai yang mengalir tenang dari dataran tinggi meleati liuk-liuk tanah yang semakin rendah. Jane gadis berusia 20  tahun yang sekarang tinggal di sebuah kota yang sesak dengan manusia. Hari ini sebualan dia genap berusia 20 tahun, seluruh riuh ucapan selamat sudah berahir 1 bulan yang lalu, dan hari ini dia membaca sebuah 1 ucapan selamat dari seseorang yang tak dikenalinya melalui akun sosial media miliknya. Jane merasa hal yang konyol ketika ulang tahunya sudah berlalu 1 bulan yang lalu namun masih saja ada yang mengucap kata selamat. Dia tertawa terbahak-bahak, namun tak berlangsung lama. Jane segera mebalas dengan ucapan terimakasih. 3 menit dia melihat-lihat history chat dengan kerabat lainya. Tanganya melesat cepat  secepat bison yang ada dikotanya. “sreet” tangan Jane terhenti, matanya meredup, bibirnya bergetar, wajahnya mengelak keatas seperti menahan sebuah air mata yang akan jatuh membasahi pipinya. “Joe” suara jane mengucap nama joe dengan lemah.
Joe adalah seorang lelaki yang dikenalnya 1 tahun yang lalu, Mereka bertemu melalu akun sosial media, keduanya dekat seiring dengan kemajuan teknologi saat ini, tanpa sering bertemu, mereka mencoba memperkenalkan diri masing - masing melalui akun sosial media yang dimilikinya. Joe seorang pemusik yang terkenal dengan permainan gitarnya. Joe sangat menyukai music bergenere Jazz, seorang berwajah lonjong berkulit  sawo matang dan berpostur kurus. Joe tidak menyukai keramaian di toko-toko modern dia lebih menyukai hawa sejuk pegunungan, dan selamanya akan tamapak begitu. Seperti saat 1 tahun yang lalu, ketika Jane memintanya untuk menemaninya pergi ke suatu Cafe yang kebetulan tempatnya berada di Departement store di kotanya, dia menolak keras dan mengatakan pada Jane jika dia tidak menyukai Departement store, dan dia tidak akan pernah menemaninya. Jane yang tak bisa memaksa hanya bisa mengela nafas, memaklumi Joe yang memang tak menyukai keramaian Mall. Joe sering tak mementingkan Jane, dia lebih memilih mementingkan keinginannya, dan Jane hanya bisa mendukung keinginan Joe. Seperti saat Joe ingin bertemu dengan Jane, Jane selalu mengiyakan dan meluangkan waktu untuk Joe, namun dengan santainya Joe membatalkan pertemuan itu hanya karena dia akan pergi mendaki gunung bersama temanya. Jane hanya bisa mengiyakan dengan nada jutek, dan segera hangat kembali setelah joe meminta maaf. Jane seperti tak berarti, janji yang dibuat pertama kali olehnya dan secepatnya mengganti janji dengan yang lain, Jane sekali lagi hanya bisa mengela nafas mencoba memahami Hobinya.
Satu tahun yang lalu mereka menjadi sepasang kekasih, Hubungan mereka selalu nampak baik-baik saja dimata Jane. Joe walaupun seperti itu sangat menyayangi Jane, Memperhatikan Jane walaupun dengan sikap dingin. Joe juga berhasil mengenali sebagian besar keluarga Jane, dan keluarga Jane menerimanya dengan baik. Joe sangat sukar mengungkapkan perasaan langsung, dia sukar untuk menjelaskan, dia lebih suka melupakanya dengan bersenang-senang.
Seiring dengan berjalanya waktu, Joe berubah menjadi seorang yang sibuk dengan kegiatan-kegiatanya, sibuk dengan organisasi barunya, sibuk dengan bandnya, sibuk dengan tugas kuliahnya dan Jane tetap selalu mendukungnya, “ Joe, aku kekasihmu, bukan penghalang kesuksesanmu, lakukan apa yang akan membuatmu sukses, jangan hiraukan aku” kata itu selalu ditujukan pada Joe saat dia sedang sibuk dengan kegiatanya, Jane tak bisa mencegah dan egois untuk memintanya menuruti permintaanya yang konyol, seperti meminta meluangkan sedikit waktu untuk bertanya sedang apa? Sudah makan? Atau maaf . sehingga yang dia lakukan hanya menunggu, menunggu Joe selesai dengan kegiatanya. Jane tak bisa mengganggu banyak, hanya sekedar mengirim 1 2 pesan sebagai pengingat saja. Itupun dia lakukan dengan perasaan ragu, “bagaimana kalau joe menganggap pesan pengingatku sebagai pengganggu? Bagaimana jika merasa dianggap seperti anak keci? “ pertanyaan itu selalu menghantui Jane,  dia seperti itu karena dia sangat berhati-hati terhadap Joe, banyak kasus jika lelaki kurang suka diperlalukan seperti anak kecil, tapi usahanya berhati-hati ternyata salah.
Bulan berganti, kesibukkan joe semakin menjadi-jadi, dia hampir tak ada waktu untuk sekedar mengirim pesan pengingat jika dia masih perduli dengan Jane, ataupun pergi menemui jane, ataupun hanya sekedar datang kekampus. Pada awal pertemuan mereka Joe sangat rajin kekampus, saat libur kuliah dia tak pulang, dia lebih suka berada dikampus, dengan Jane tentunya, setiap sabtu dia juga tak pergi kemana-mana, dia lebih memilih dikampus, bercanda , bermain gitar atauy melakukan aktifitas lainya. seperti yang dilakukan joe saat hujan dimalam minggu, Jane mengirim pesan pada Joe jika dia sedang berada dikampus, Jane mencegahnya untuk pergi karena Hujan, Joe tak membalas apapun, 30 menit berlalu tiba-tiba dia dantang dengan motor yang sudah basah kuyup oleh hujan, teman-teman Joe menggeleng tak mengerti, begitu besarkan keinginan bertemu dengan Jane? Hingga hujanpun tak mampu melawan keinginannya
atau seperti ketika Joe berjanji pada Jane untuk bertemu hari ini dikampus saat matakuliah Jane selesai, dan tiba-tiba Joe membatalkanya karena teman-teman masa SMAnya mengajaknya untuk pergi nongkrong di warung kopi, Jane sangat sebal, bagaimana mungkin dia menjadi opsi kedua setelah yang lainya, namun saat joe meminta izin pada Jane, dia hanya bisa tersenyum manis mencoba menerima keinginannya, Jane sempat kesal ketika mendengar dia sedang bersama soorang gadis dan ternyata itu adalah sahabatnya, dia menulis kata-kata yang menandakan jika dia sedang jengkel di akun media sosialnya, Joe merespon begitu cepat “ Apakah kau masih disana?” Joe mengirim pesan pada Jane, Jane hanya menjawab “iya”, dan pertanyaan selanjutnya hanya dia jawab dengan singkat menandakan dia sedang sebal, pesan terahir dari Jane tak dibalas oleh Joe mungkin karena dia kehabisan kata-kata membalas pesan jutek dari Jane,  tanpa balasanan apapun jam 09.00 malam tiba-tiba Joe datang lagi kekampus menemui Jane, dia mengeluh lelah dan sakit pada Jane, Jane lagi-lagi tak berdaya untuk marah, Jane kembali memberinya senyum melegakan untuk Joe, Segera joe mengungkapkan jika dia merindukan Jane, Jane kembali mempercayainya.
Jane terlalu berhati hati menjaga perasaan Joe, terlalu berhati-hati agar Joe tidak terluka olehnya, atau Risih olehnya, tapi ternyata usahanya salah.
Jane berharap berhenti melakukan permainan perasaan dan berharap Joe adalah pilihan terahir, dia selalu berdoa pada tuhan “Apakah iya? Tolong tunjukan ya rabb”. Joe mulai berubah, hujan deras , Panas, Tugas Kuliah atau apapun tak lagi ada artinya, joe tak lagi datang saat Hujan deras datang, Joe tak lagi menampakkan wajahnya tikungan parkiran kampus. Joe benar-benar sibuk dengan kegiatanya. Tak banyak yang jane lalukan, hanya menunggu dan menunggu. Hingga Jane tak mengerti artinya menunggu lagi. Joe yang susah diajak bicara, Joe yang susah merasa salah, dan susah dikendalikan membuat Jane berfikir keras, “ Bagaimana cara memulai pembicaraan ? Bagaimana cara meminta penjelasan? Terlalu kasar? Bagaimana jika dia terluka? Terlalu lembut? Bagaimana jika dia berbohong atau malah tak mau menjelaskan?” Jane selalu berfikir.
Hari demi hari berlalu, Jane benar-benar tak bisa menunggu seperti ini, mendengarkan rumor yang membuat telinganya sakit, berkali-kali meyakinkan hatinya jika semua baik-baik saja, sedang nyatanya Joe menyibukkan diri agar bisa melupakan Jane, segaja menghapus ingatanya jika Joe tak memiliki kekasih dan bersenang-senang dengan temanya? Sedangkan Jane? Dia hanya bisa menangis, menjerit dalam hatinya saja, mencoba melapngkan dada memaklumi segala hal yang terjadi, mencoba memahami cara berfikirnya, mungkin joe lelah dan ingin mencari sandaran hati yang baru. Dan Jane segera mengahiri hubunganya yang begitu singkat.
Bulan baru , hari baru, namun luka yang sama. Hari ini Jane memutuskan untuk membuka hati untuk orang baru, Sebut saja Dion. Sang pelaku yang berhasil meluluhkan hati Jane. Dion adalah lelaki pecinta seni, berwajah lembut, namun berpenampilan seperti preman, berpostur tinggi dan bersenyum cantik. Dia tak suka membaca, pecinta alam yang tak memungkiri menyukai jalan-jalan di keramaian pasar modern. Awal pertemuan Jane sangat mengagumi Dion, melihat Dion seperti cowok paling keren yang dia temui dalam hidupnya, cowok super dewasa yang menyukai humor. Terkadang terlihat freak tapi menenangkan. Jane belum sepenuhnya melupakan Joe, tapi dia akan mencoba menjalani semua dengan Dion dan melupakan Joe secepatnya. Dion adalah seorang lelaki penuh perhatian, terlihat ketika dia jalan dengan Jane, dia selalu mendahulukan kesukaan jane dan selalu bertanya apa yang Jane ingin lakukan, Saat jane sedang menyebrang jalan, Dion selalu berjalan searah mobil melaju, dion selalu berjalan dibelakang jane, berjaga-jaga jika terjadi apa-apa dengan Jane. Walapun dion tak mengerti tentang cafe-cafe yang selalu di ceritakan Jane, dia selalu menawarkanya pergi ke cafe-cafe unik, tak perduli itu di dalam departement store, tak perduli mahal, ataupun sulit dan harus menggunakan google maps, Dion sangat menyukai senyum Jane hingga apapun dia akan lakukan untuk melihat senyum Jane, tak pernah kecewa ketika Jane membatalkan janji tiba-tiba karena ada urusan keluarga, ataupun gagal nonton walaupun tiket sudah terbeli, lelaki berhati emas ini berhasil mebuat Joe hilang dari ingata Jane seketika. Namun saat Musim hujan kembali, semua cerita menjadi sangat berbeda.
Jane bingung “bagaimana cinta itu ? seperti apa pemahamanya ?” , Joe tiba-tiba kembali bersama hujan , menyesali sifatnya yang acuh dan tak perduli dengan perasaan Jane, Joe menyatakan jika dia baru menyadarinya saat Jane pergi, semua terasa aneh, Joe menginginan Jane kembali, Musim hujan membuat Joe tak bisa melupakan Jane, Musim hujan kemarin terlalu indah untuk dilewati bersama, Jane terdiam, dia tak bisa memungkiri Jika Jane masih mencintai Joe, sedang Dion sudah begitu baik , tak mungkin Jane melukai Dion hanya karena Joe, tapi Jane juga tak bisa melukai Joe, Jane tak mengerti terkadang dia sangat menyayangi Dion namun disisi lain, dia masih memimpikan Joe , semakin hari Joe semakin sering terlihat di Kampus, Jane semakin tak bisa mengendalikan perasaanya, jantungnya berdenyut kencang ketika berpapasan dengan Joe jangankan berpapasan, mendengar suaranya saja Jane bergetar. Jane tak mengerti bukankah sebulan kemarin dia Joe terlihat begitu memuakkan mengapa sekarang menjadi begini?, Rasanya menyenangkan ketika pesan text dipenuhi dengan obrolan bersama Joe, Menghabiskan senja bersama lagi seperti 1 tahun yang lalu.
Tuhan.. mengapa aku sangat bahagia saat bersama Joe, namun sangat nyaman dengan Dion ?
Apakah aku memilih mencitai atau dicintai?

*To Be Countinue
Download Artikel disini : Download
Ada kesalahan di dalam gadget ini